Bursa Saham Asia Semringah Tertular Wall Street

Bursa saham Asia Pasifik menguat pada Jumat (29/7/2022) setelah reli di wall street. Pergerakan bursa saham di tengah laporan produk domestik bruto (PDB) negatif Amerika Serikat (AS), yang menunjukkan bank sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed) akan kurang agresif dalam siklus pengetatannya.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 naik 0,27 persen sementara indeks Topix hampir datar. Indeks Kospi Korea Selatan naik 0,6 persen dan Kosdaq menguat 0,56 persen. Sementara itu, indeks S&P/ASX 200 di Australia naik 0,4 persen.

Baca Juga

Di sisi lain, United Overseas Bank Singapura melaporkan laba bersih 1,1 miliar dolar Singapura (USD 797 juta atau Rp 11,84 triliun) pada kuartal II, naik 11 persen dari tahun lalu.

“Pendapatan bunga bersih tumbuh 18 persen secara tahunan dipimpin oleh peningkatan margin yang kuat dan pertumbuhan pinjaman yang sehat,” kata perusahaan dalam sebuah pernyataan, dikutip dari CNBC, Jumat (29/7/2022).

Pasar Thailand libur pada Jumat. Wall streetreli setidaknya 1 persen semalam. Indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 332,04 poin, atau 1 persen, menjadi 32.529,63. S&P 500 naik 1,2 persen menjadi 4.072,43, dan Nasdaq Composite naik hampir 1,1 persen menjadi 12.162,59.

Bursa saham berjangka AS naik lebih lanjut setelah perusahaan teknologi seperti Apple dan Amazon melaporkan pendapatan yang kuat.

Pergerakan itu terjadi meskipun Biro Analisis Ekonomi AS melaporkan PDB turun 0,9 persen pada kecepatan tahunan untuk kuartal April-Juni, menurut perkiraan sebelumnya. PDB tergelincir 1,6 persen pada kuartal pertama tahun ini.

Sementara itu, laporan PDB negatif kedua berturut-turut, pernyataan resmi tentang apakah AS berada dalam resesi datang dari Biro Riset Ekonomi Nasional. Tekad itu bisa memakan waktu berbulan-bulan atau bahkan lebih lama.

Indeks USD berada di 106,214. Yen Jepang diperdagangkan pada 134,41 per dolar AS, menguat dari awal pekan ini. Sedangkan, dolar Australia mencoba mencapai level 0,7 dan terakhir di 0,6998.

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street menguat pada perdagangan Kamis, 28 Juli 2022. Wall street naik dua hari berturut-turut bahkan setelah produk domestik bruto (PDB) terbaru AS menunjukkan kontraksi dua kali berturut-turut.

Penguatan wall street seiring investor bertaruh penurunan ekonomi akan menyebabkan the Federal Reserve (the Fed) atau bank sentral AS mengakhiri kenaikan suku bunga secara agresif.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Dow Jones melonjak 332,04 poin atau 1 persen menjadi 32.529,63. Indeks S&P 500 menanjak 1,2 persen ke posisi 4.072,43. Indeks Nasdaq bertambah hampir 1,1 persen ke posisi 12.162,59. Rata-rata indeks acuan mencatatkan kinerja positif secara mingguan dan bulan terbaik pada 2022.

Setelah penurunan singkat usai laporan PDB, investor menepis kekhawatiran upaya the Federal Reserve (the Fed) untuk menjinakkan lonjakan harga akan mendorong ekonomi ke dalam resesi. Pertumbuhan ekonomi AS turun 0,9 persen pada kuartal II, berdasarkan laporan the Bureau of Economic Analysis.

Perkiraan Dow Jones kenaikan 0,3 persen untuk PDB. Pada kuartal I 2022, PDB turun 1,6 persen. “Meskipun tentu saja di sisi negatif dari perkiraan, perlu diingat penurunan 1 persen relatif kecil dan mendukung gagasan lingkungan resesi akan ringan,” ujar Direktur Pelaksana E-Trade, Mike Loewengart, dikutip dari CNBC, Jumat (29/7/2022).

Ia menambahkan, the Fed telah menjelaskan mengendalikan inflasi adalah prioritas utamanya sehingga tidak mungkin itu akan berubah arah. Hal ini karena hasil kuartal negatif lainnya, meski laporan pada Kamis, 28 Juli 2022 mungkin tampak bertentangan dengan komentar mengenai resesi oleh ketua the Fed Jerome Powell. “Pasar telah reli pada Juli, jadi jangan kaget melihat kenyataan tantangan yang ada di depan bagi investor,” ujar dia.

Banyak yang mencirikan resesi memiliki dua kuartal negatif berturut-turut dari pertumbuhan ekonomi. Ini lebih bernuansa dari itu. Biro riset ekonomi nasional mempertimbangkan beberapa faktor tambahan.

Pergerakan tersebut mengikuti reli berbasis luas yang terjadi pada sesi sebelumnya setelah the Federal Reserve menaikkan suku bunga 0,75 persen untuk kedua kalinya berturut-turut melawan inflasi, dan investor bertaruh apakah bank sentral dapa hentikan lonjakan harga tanpa mendorong ekonomi ke dalamnya.

Senior portfolio manager dan pendiri Miramar Capital, Max Wasserman menuturkan, lonjakan pada perdagangan Kamis pekan ini merupakan kelanjutan dari reli itu.

“Sikapnya pada dasarnya adalah the Fed mengatakan kita sudah mendekati akhir, dan angka PDB memberi tahu orang-orang bahwa tidak ada alasan kuat bagi the Fed untuk memukul dengan 0,75 persen atau 1 persen lagi,” ujar dia.

Ia menambahkan, the Fed mungkin masih menaikkan suku bunga acuan sedikit, tetapi tidak akan terus menaikkan pada level yang sama.

You May Also Like

About the Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.